09:45 PM waktu setempat.
Yah, bilang saja bahwa Kyo datang lebih awal. Terlalu awal, bahkan. Ryokubita Shinkansen baru akan datang pukul 11:00, dan itu artinya Kyo harus menunggu lama. Ya, menunggu—dan pemuda berusia enam belas tahun ini, tidak terlalu suka melakukannya. Ia benci menunggu. Dan kenapa dirinya datang terlalu cepat? Seandainya saja adiknya, Hikaru, tidak membuatnya marah, Kyo mungkin tak akan berangkat sedini ini. Adik perempuan satu-satunya itu merengek minta ikut ke sekolahnya. Yeah, Ryokubita—memangnya ada lagi? Kyo sudah kehabisan akal menenangkan adiknya itu. Pada akhirnya ia kabur—menghindari Hikaru yang tengah menangis keras di kamarnya. Gadis kecil berusia tujuh tahun itu entah kenapa beberapa bulan ini jadi agak rewel kalau Kyo tidak ada di dekatnya. Bukannya Kyo tidak sayang Hikaru, tapi lama-kelamaan pemuda jangkung ini jadi jengah juga. Kedua orangtuanya sudah tidak ada, dan mau tidak mau, Hikaru dititipkan kepada keluarga Honda. Kyo memang masih di bawah umur untuk mengurus adiknya, dan menitipkan Hikaru pada tetangganya itu jauh lebih aman daripada harus diserahkan pada Komisi Perlindungan Anak.
Dihelanya nafas panjang seraya menggendong tas gunung merah-hitam besar miliknya ke punggung, kemudian berjalan menuju tiang kedelapan dari Lobby Selatan Stasiun Akita. Genap keempat kalinya mungkin Kyo melakukan rutinitas ini di awal tahun pembelajarannya—setiap tanggal 15 April malam.
“Mi.do.ri.no.kut.su,” gumamnya begitu berhenti di depan tiang tujuannya.
Tepat setelah menggumamkan kata-kata itu, sebuah cahaya keputihan muncul dari dalamnya. Kyo melangkah mundur, sedikit menyipitkan matanya karena silaunya cahaya. Rupanya pemuda berambut hitam kecoklatan ini masih belum terbiasa. Cahaya yang awal mulanya membentuk garis itu, perlahan semakin melebar—membentuk sebuah lubang persegi seukuran pintu dengan lebar sekitar setengah meter—dan juga memudar. Kali ini persegi tersebut memperlihatkan susunan tangga ke bawah di dalamnya, dan tak perlu waktu lama bagi Kyo untuk segera melangkahkan kakinya kesana. Tidak perlu ia menoleh ke kanan dan ke kiri, hanya untuk memastikan apakah ada orang yang melihatnya.
Well, sekedar informasi—khusus Lobby Selatan, entah kenapa selalu sepi setiap malam ini.
Kau tahu alasannya, bukan?
Kyo menginjak tangga terakhir dengan helaan nafas panjang. Dirapikannya T-shirt tanpa lengan berwarna putihnya, kemudian berjalan menuju koridor stasiun—dan ternyata, Kyo tidak sendirian disini. Sudah banyak wajah-wajah lama telah berada di stasiun bawah tanah ini, dan bisa jadi lebih awal dari Kyo berada di tempat ini. Menghindari keramaian, Kyo menurunkan tas punggungnya dan bersandar di dinding seraya memejamkan matanya. Tidak peduli bahwa beberapa senti darinya ada bangku besi yang bisa ia duduki saat ini.
Sayangnya, Kyo sedang tidak niat.
Last edited by Kyoutarou Ishibashi on Tue Mar 17, 2009 11:33 am; edited 1 time in total
The Beginning. (Akita Station - Hakamadote Station)

Kyoutarou Ishibashi- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 2
Job/Position: Student Association Leader
Registration date: 2009-02-12
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 15 y/o, 173 cm/55 kg
Physhical Characteristics:

Tomohiko Tsukishima- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 15
Registration date: 2009-02-12
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 15 y/0, 170 cm/56 kg
Physhical Characteristics:
“Sudah—sampai sini saja.”
Cukup dengan satu lambaian tangan agar supir yang mengantarkannya dengan sedan putih mengkilat itu meninggalkannya sendirian di gerbang stasiun Akita. Suara dentaman drum terdengar kencang dari balik earphone yang melekat di lubang telinga pemuda bergestur langsing tersebut; sengaja, supaya ia tidak merasa terganggu ketika banyak orang yang menatapnya aneh dengan menenteng sebuah koper berukuran besar melintasi kerumunan orang-orang Jepang yang justru hendak keluar dari stasiun yang sebentar lagi akan tutup.
Lobby Selatan seperti dua tahun terakhir ini masih tetap sepi di tanggal 15 April malam. Sebenarnya kalau kau cukup pintar, kau bisa saja meneliti apa yang salah dengan tanggal itu hingga hanya segelintir orang yang bisa memasuki tempat ini di malam tanggal 15 April—kalau menurut kakek Seiichi yang merupakan petinggi kuil keluarga kerajaan, daerah Lobby Selatan Stasiun Akita memang sudah dipasangi kekkai yang akan membuat orang-orang non penyihir menghindar tanpa sebab. Tapi baginya, justru keadaan seperti ini menambah kesan horror di tempat sepi seperti ini sebagai refleksi dari cerita-cerita menyeramkan—tentu saja bohong—yang muncul dari efek kekkai yang dipasang para pendahulu.
Tomo mendengus kesal—andai saja Atsushi sudah bisa masuk Ryokubita tahun ini, setidaknya ia memiliki teman bercengkrama saat menuju ke tiang kedelapan. Suasana yang hening seperti ini membuat bulu kuduk Tomo mendadak berdiri seperti para pasukan berani mati yang siap berperang di tengah ruangan besar nan remang-remang ini. Sial. Beruntunglah Tomo memiliki kulit wajah yang tidak mudah memperlihatkan ekspresinya, hingga ia dapat memastikan tidak ada satu pun orang yang sadar dengan rasa ngerinya ini.
“Midori no kutsu—,” baguslah kata kuncinya masih sama seperti saat Tomo pertama kali mencobanya, dua tahun yang lalu. Waktu itu, Tomo hanya dapat menatap kagum cahaya yang muncul tepat setelahnya—kemudian ia menuruni tangga dengan menutupi sikap noraknya dengan wajah cool, seperti biasa—tapi kini, ia sudah bisa melengang cukup santai ditemani dengan suara dentaman lagu rock yang baru saja ditambahkan volumenya.
Perlu sedikit perhatian ekstra saat menuruni anak tangga demi anak tangga—disini licin. Kalau saja koridor tangga ini sedikit lebih terang, maka kau dapat menemukan gundukan lumut di berbagai sisi. Tidak aneh kalau banyak orang—terutama ibu-ibu lanjut usia—yang tergelincir saat menuruni tangga ini hingga terjadi kecelakaan beruntun. Kasihan mereka. Kenapa pihak sekolah tidak membersikannya saja, sih? Setidaknya untuk mengurangi jumlah orang yang terluka setidaknya saat keadaan tidak seperti saat ini; saat ia berada di tempat sepi ini sen—
—Tunggu. Kau tidak sendirian Tomohiko. Ada orang lain di ujung sana. Seorang pemuda berambut cokelat—Ishibashi. Sigh. Tomo memutar bola matanya malas, sementara ia mengeluarkan satu tangannya yang sedari tadi berada di dalam saku jaket baseballnya dan mengangkatnya hingga setinggi dadanya.
“Malam.”
Last edited by Tomohiko Tsukishima on Tue Mar 17, 2009 5:58 am; edited 1 time in total
Cukup dengan satu lambaian tangan agar supir yang mengantarkannya dengan sedan putih mengkilat itu meninggalkannya sendirian di gerbang stasiun Akita. Suara dentaman drum terdengar kencang dari balik earphone yang melekat di lubang telinga pemuda bergestur langsing tersebut; sengaja, supaya ia tidak merasa terganggu ketika banyak orang yang menatapnya aneh dengan menenteng sebuah koper berukuran besar melintasi kerumunan orang-orang Jepang yang justru hendak keluar dari stasiun yang sebentar lagi akan tutup.
Lobby Selatan seperti dua tahun terakhir ini masih tetap sepi di tanggal 15 April malam. Sebenarnya kalau kau cukup pintar, kau bisa saja meneliti apa yang salah dengan tanggal itu hingga hanya segelintir orang yang bisa memasuki tempat ini di malam tanggal 15 April—kalau menurut kakek Seiichi yang merupakan petinggi kuil keluarga kerajaan, daerah Lobby Selatan Stasiun Akita memang sudah dipasangi kekkai yang akan membuat orang-orang non penyihir menghindar tanpa sebab. Tapi baginya, justru keadaan seperti ini menambah kesan horror di tempat sepi seperti ini sebagai refleksi dari cerita-cerita menyeramkan—tentu saja bohong—yang muncul dari efek kekkai yang dipasang para pendahulu.
Tomo mendengus kesal—andai saja Atsushi sudah bisa masuk Ryokubita tahun ini, setidaknya ia memiliki teman bercengkrama saat menuju ke tiang kedelapan. Suasana yang hening seperti ini membuat bulu kuduk Tomo mendadak berdiri seperti para pasukan berani mati yang siap berperang di tengah ruangan besar nan remang-remang ini. Sial. Beruntunglah Tomo memiliki kulit wajah yang tidak mudah memperlihatkan ekspresinya, hingga ia dapat memastikan tidak ada satu pun orang yang sadar dengan rasa ngerinya ini.
“Midori no kutsu—,” baguslah kata kuncinya masih sama seperti saat Tomo pertama kali mencobanya, dua tahun yang lalu. Waktu itu, Tomo hanya dapat menatap kagum cahaya yang muncul tepat setelahnya—kemudian ia menuruni tangga dengan menutupi sikap noraknya dengan wajah cool, seperti biasa—tapi kini, ia sudah bisa melengang cukup santai ditemani dengan suara dentaman lagu rock yang baru saja ditambahkan volumenya.
Perlu sedikit perhatian ekstra saat menuruni anak tangga demi anak tangga—disini licin. Kalau saja koridor tangga ini sedikit lebih terang, maka kau dapat menemukan gundukan lumut di berbagai sisi. Tidak aneh kalau banyak orang—terutama ibu-ibu lanjut usia—yang tergelincir saat menuruni tangga ini hingga terjadi kecelakaan beruntun. Kasihan mereka. Kenapa pihak sekolah tidak membersikannya saja, sih? Setidaknya untuk mengurangi jumlah orang yang terluka setidaknya saat keadaan tidak seperti saat ini; saat ia berada di tempat sepi ini sen—
—Tunggu. Kau tidak sendirian Tomohiko. Ada orang lain di ujung sana. Seorang pemuda berambut cokelat—Ishibashi. Sigh. Tomo memutar bola matanya malas, sementara ia mengeluarkan satu tangannya yang sedari tadi berada di dalam saku jaket baseballnya dan mengangkatnya hingga setinggi dadanya.
“Malam.”
Last edited by Tomohiko Tsukishima on Tue Mar 17, 2009 5:58 am; edited 1 time in total
_________________


Azumi Iseya- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 1
Job/Position: Fuku Kaichou (VIII-1)
Registration date: 2009-02-11
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 15, 160 cm/ 40 kg
Physhical Characteristics:
“Delapan, delapan—ITU DIA!”
Gadis remaja berambut coklat kemerahan dengan topi rajutan garis-garis biru itu tersenyum cerah seraya memanggul tas ransel besarnya. Isinya stok pakaian hingga liburan musim panas Agustus nanti. Yah, dia akan pulang ke rumah saat itu. Kedua orangtuanya ingin anak gadisnya pulang ke rumah, tidak menetap di sekolah. Azumi memanyunkan bibirnya tiap kali mengingat itu—padahal, ia punya segudang rencana asyik bersama teman-temannya tahun ini. Masa harus dibatalkan? Ih, Otou-chan memang tidak pernah mengerti perasaanku, membosankan menghabiskan liburan di rumah terus. Dipikirnya aku senang, eh, terus-terusan nongkor di beranda rumah setiap malam musim panas, dengan banyak nyamuk berseliweran serta ditemani obat nyamuk?
Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya ketika berdiri di depan tiang—yang sepertinya lebih cocok dikatakan sebagai pilar. Iya, pilar bangunan urutan kedelapan dari pintu masuk Lobby Selatan Statsiun Akita. Dan Azumi baru sadar, bahwa tempat ini sangat sepi sekarang. Sama seperti tahun lalu. Benar kata Ruka, ada kekkai pelindung disini. Azumi bisa masuk karena ia punya darah pemnyihir. Memang tidak murni. Yah, Azumi itu golongan Tsutomu, omong-omong. Ia bisa masuk kemari karena memang ada keperluan. Kalau tidak, ya Azumi tak akan ada di tempat ini, dong. Stasiun yang digunakan pihak sekolah sebagai tempat start menuju wilayah Ryokubita. Azumi dan teman-temannya akan berangkat tepat di tengah malam.
Ah, awalnya sih memang menakutkan, tapi Azumi sudah harus mulai terbiasa. Jam keberangkatannya memang agak aneh—kenapa harus tengah malam? Ha, dan ini belum seberapa, kau tahu—masih banyak kejutan menanti di Ryokubita.
“Midorinokutsu!” ujar Azumi semangat dengan intonasi cepat di depan pilar kedelapan, tangan kanannya terangkat ke atas. Tidak jelas untuk apa. Gadis itu kemudian berjalan mundur sekitar tiga langkah dengan mata tertutup, tahu bahwa ia akan segera menghadapai cahaya menyilaukan. Hanya empat detik, dan setelah yakin bahwa waktunya sudah tepat, Azumi membuka matanya. Gadis dengan rambut tergerai sedada itu nyengir lebar, melangkah maju dan menginjak anak tangga di dalam 'pintu' yang ada di hadapannya. Cahaya tadi kini berganti menjadi lubang besar dengan tangga menuju ke bawah di dalamnya. Semakin jauh Azumi melangkah turun, perlahan di belakangnya 'pintu' itu juga menutup. Menunggu murid lainnya menyebutkan kata kunci, dan membukanya kembali. Azumi merasa kata kunci ini agak sedikit riskan, bayangkan saja—mestinya ketika Azumi mengucapkannya terburu-buru, pintu tidak terbuka. Hm, sepertinya ia harus melaporkan hal ini pada Nakayama-kouchou, deh.
Lorong yang dilalui Azumi ternyata gelap. Lampunya mati, mungkin? Tahun lalu rasanya lebih terang. Tangga-tangganya juga terasa agak sedikit licin, sih. Wah wah, ini juga harus Azumi laporkan ke Kouchou juga, dong? Payah, ah. Sekali lagi gadis itu memanyunkan bibirnya, berjalan dengan hati-hati dengan kedua tangan memegangin tas ranselnya—hingga menginjak tangga terakhir. Yah, Azumi melompat, tepatnya—bukan menginjak. Dan mendarat dengan sukses di lantai batu stasiun bawah tanah.
Oh, belum tahu, ya? Stasiunnya Ryokubita terletak di bawah tanah. Keren, ya?
“Malam yang indah, senpai-senpaiku yang tercinta!!” sapa Azumi berteriak dengan suara cemprengnya seraya melambai, berjalan mendekati kedua senpai-nya di yang berada tak jauh darinya. Hm, satu setengah meter dari koridor rel, lah—dan ups, Azumi seharusnya tidak sok akrab pada kedua penerus keluarga ini! Apalagi keduanya laki-laki. Tercinta? Pret cuih. Gadis remaja ini sepertinya salah makan, deh, tadi siang, sehingga berani menyapa kedua orang paling berpengaruh di Ryoubita ini.
Ck ck ck. Otakmu hilang komponen, eh, Azumi?
Gadis remaja berambut coklat kemerahan dengan topi rajutan garis-garis biru itu tersenyum cerah seraya memanggul tas ransel besarnya. Isinya stok pakaian hingga liburan musim panas Agustus nanti. Yah, dia akan pulang ke rumah saat itu. Kedua orangtuanya ingin anak gadisnya pulang ke rumah, tidak menetap di sekolah. Azumi memanyunkan bibirnya tiap kali mengingat itu—padahal, ia punya segudang rencana asyik bersama teman-temannya tahun ini. Masa harus dibatalkan? Ih, Otou-chan memang tidak pernah mengerti perasaanku, membosankan menghabiskan liburan di rumah terus. Dipikirnya aku senang, eh, terus-terusan nongkor di beranda rumah setiap malam musim panas, dengan banyak nyamuk berseliweran serta ditemani obat nyamuk?
Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya ketika berdiri di depan tiang—yang sepertinya lebih cocok dikatakan sebagai pilar. Iya, pilar bangunan urutan kedelapan dari pintu masuk Lobby Selatan Statsiun Akita. Dan Azumi baru sadar, bahwa tempat ini sangat sepi sekarang. Sama seperti tahun lalu. Benar kata Ruka, ada kekkai pelindung disini. Azumi bisa masuk karena ia punya darah pemnyihir. Memang tidak murni. Yah, Azumi itu golongan Tsutomu, omong-omong. Ia bisa masuk kemari karena memang ada keperluan. Kalau tidak, ya Azumi tak akan ada di tempat ini, dong. Stasiun yang digunakan pihak sekolah sebagai tempat start menuju wilayah Ryokubita. Azumi dan teman-temannya akan berangkat tepat di tengah malam.
Ah, awalnya sih memang menakutkan, tapi Azumi sudah harus mulai terbiasa. Jam keberangkatannya memang agak aneh—kenapa harus tengah malam? Ha, dan ini belum seberapa, kau tahu—masih banyak kejutan menanti di Ryokubita.
“Midorinokutsu!” ujar Azumi semangat dengan intonasi cepat di depan pilar kedelapan, tangan kanannya terangkat ke atas. Tidak jelas untuk apa. Gadis itu kemudian berjalan mundur sekitar tiga langkah dengan mata tertutup, tahu bahwa ia akan segera menghadapai cahaya menyilaukan. Hanya empat detik, dan setelah yakin bahwa waktunya sudah tepat, Azumi membuka matanya. Gadis dengan rambut tergerai sedada itu nyengir lebar, melangkah maju dan menginjak anak tangga di dalam 'pintu' yang ada di hadapannya. Cahaya tadi kini berganti menjadi lubang besar dengan tangga menuju ke bawah di dalamnya. Semakin jauh Azumi melangkah turun, perlahan di belakangnya 'pintu' itu juga menutup. Menunggu murid lainnya menyebutkan kata kunci, dan membukanya kembali. Azumi merasa kata kunci ini agak sedikit riskan, bayangkan saja—mestinya ketika Azumi mengucapkannya terburu-buru, pintu tidak terbuka. Hm, sepertinya ia harus melaporkan hal ini pada Nakayama-kouchou, deh.
Lorong yang dilalui Azumi ternyata gelap. Lampunya mati, mungkin? Tahun lalu rasanya lebih terang. Tangga-tangganya juga terasa agak sedikit licin, sih. Wah wah, ini juga harus Azumi laporkan ke Kouchou juga, dong? Payah, ah. Sekali lagi gadis itu memanyunkan bibirnya, berjalan dengan hati-hati dengan kedua tangan memegangin tas ranselnya—hingga menginjak tangga terakhir. Yah, Azumi melompat, tepatnya—bukan menginjak. Dan mendarat dengan sukses di lantai batu stasiun bawah tanah.
Oh, belum tahu, ya? Stasiunnya Ryokubita terletak di bawah tanah. Keren, ya?
“Malam yang indah, senpai-senpaiku yang tercinta!!” sapa Azumi berteriak dengan suara cemprengnya seraya melambai, berjalan mendekati kedua senpai-nya di yang berada tak jauh darinya. Hm, satu setengah meter dari koridor rel, lah—dan ups, Azumi seharusnya tidak sok akrab pada kedua penerus keluarga ini! Apalagi keduanya laki-laki. Tercinta? Pret cuih. Gadis remaja ini sepertinya salah makan, deh, tadi siang, sehingga berani menyapa kedua orang paling berpengaruh di Ryoubita ini.
Ck ck ck. Otakmu hilang komponen, eh, Azumi?

Tomohiko Tsukishima- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 15
Registration date: 2009-02-12
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 15 y/0, 170 cm/56 kg
Physhical Characteristics:
Keheningan memang membawa aura negatif, terutama di tempat yang dapat memuat ratusan orang seperti ini. Tapi, kau tahu? Tomohiko lebih tidak suka lagi keramaian. Rasanya seperti ketika terdapat ratusan nyamuk berkecamuk dalam gendang telingamu.
Bersukurlah, hantaman drum Sakura dari salah satu band rock Jepang bernama L'Arc~en~Ciel, sudah cukup membantunya mengurangi suara-suara bising yang keluar dari bibir para siswa-siswi Ryokubita yang baru saja berbondong-bondong datang dan lima detik kemudian sudah lenyap kembali saat lagu di playlist handphone Tomo berganti menjadi sebuah musik tradisional. Kalau tidak, mungkin Tomo akan memilih untuk pergi hingga saat keberangkatan tiba; barang membeli sekaleng teh dingin atau makanan kecil.
Manik cokelat terang Tomo bergulir menyusuri setiap senti ruangan besar itu dari bangku besi tempatnya duduk. Ruangan itu remang-remang, seperti biasanya, namun masih cukup untuk memerhatikan seluk beluk stasiun tua--oke, tua, walau zaman sudah mengubah stasiun yang berdiri sejak zaman Edo ini menjadi lebih modern--ini. Yeah, zaman Edo. Tepatnya saat nenek Asako dan ketiga sahabatnya--termasuk nenek Ishibashi--mendirikan tempat yang menjadi sekolahnya selama dua tahun ke belakang. Ryokusoku o Obi ta Academy--sebuah akademi sihir Jepang yang berada di daerah pedalaman yang terlindungi kekkai yang sangat kuat hingga kau tidak akan menemukan setitik pun keterangan mengenai keberadaan sekolah itu di peta non penyihir manapun di dunia ini.
Entah angin apa yang membawa seorang remaja tiga belas tahun bernama Tomohiko Tsukishima menemukan dokumen rahasia milik nenek buyutnya kira-kira sebulan sebelum keberangkatannya ke Ryokubita; sehingga ia akhirnya mengetahui dengan cukup jelas darah yang mengalir dalam nadinya ini. Keturunan salah satu pendiri yang diharapkan untuk menjaga peninggalan mereka--kira-kira begitulah inti yang tertulis di dokumen nenek Asako--dan mengharuskannya memilih sekolah yang berbeda dengan sahabatnya sendiri yang telah terlebih dahulu pindah ke sekolah sihir di Inggris. Tsche. Sekarang, setelah hampir dua tahun berlalu, ia sudah tidak terlalu peduli, toh selama libur musim panas dan musim dingin, ia masih bisa hang out bersama sahabatnya. Lagipula--
--kalau bukan ia yang mengemban tugas ini, siapa lagi yang mampu? Atsushi? Adiknya itu memiliki emosi yang masih labil. Terutama dengan kelakuannya yang seakan ingin menjadi ketua geng. Sementara Aika-nee?--Tomo menyenderkan punggungnya di senderan kursi dan menatap tegak lurus ke langit-langit stasiun, menghela napas berat dengan kelebat demi kelebat rasa khawatir--anak sulung keluarga Tsukishima itu tidak akan mampu. Bahkan untuk berada di luar rumah pun, gadis itu sudah cukup direpoti oleh penyakitnya yang tidak kunjung sembuh itu.
Tomo menegakkan posisi duduknya, jemarinya dengan malas menyentuh earphone putih yang menggantung di telinga kirinya dan melepaskannya dalam diam saat sudut matanya menangkap seorang anak perempuan melompati anak tangga terakhir dan mendarat dengan mulus di lantai marmer stasiun Akita. Anak itu--siapa ya, ngomong-ngomong? Yah, maklum saja, di balik wajah kalem seorang Tomohiko Tsukishima, menyimpan satu kekurangan yang cukup dominan. Nobody's perfect, rite? Pemuda ini cukup kesulitan dalam menghafal nama seseorang, jadi jangan heran kalau ia akan merespon sedikit lama saat orang yang tidak dihafalnya menyapanya seperti saat ini.
Dan hasilnya? Pemuda jangkis itu hanya mengangguk kikuk pada anak perempuan bertopi rajutan itu.
Bodoh.
Anyway, keretanya delay ya?
Bersukurlah, hantaman drum Sakura dari salah satu band rock Jepang bernama L'Arc~en~Ciel, sudah cukup membantunya mengurangi suara-suara bising yang keluar dari bibir para siswa-siswi Ryokubita yang baru saja berbondong-bondong datang dan lima detik kemudian sudah lenyap kembali saat lagu di playlist handphone Tomo berganti menjadi sebuah musik tradisional. Kalau tidak, mungkin Tomo akan memilih untuk pergi hingga saat keberangkatan tiba; barang membeli sekaleng teh dingin atau makanan kecil.
Manik cokelat terang Tomo bergulir menyusuri setiap senti ruangan besar itu dari bangku besi tempatnya duduk. Ruangan itu remang-remang, seperti biasanya, namun masih cukup untuk memerhatikan seluk beluk stasiun tua--oke, tua, walau zaman sudah mengubah stasiun yang berdiri sejak zaman Edo ini menjadi lebih modern--ini. Yeah, zaman Edo. Tepatnya saat nenek Asako dan ketiga sahabatnya--termasuk nenek Ishibashi--mendirikan tempat yang menjadi sekolahnya selama dua tahun ke belakang. Ryokusoku o Obi ta Academy--sebuah akademi sihir Jepang yang berada di daerah pedalaman yang terlindungi kekkai yang sangat kuat hingga kau tidak akan menemukan setitik pun keterangan mengenai keberadaan sekolah itu di peta non penyihir manapun di dunia ini.
Entah angin apa yang membawa seorang remaja tiga belas tahun bernama Tomohiko Tsukishima menemukan dokumen rahasia milik nenek buyutnya kira-kira sebulan sebelum keberangkatannya ke Ryokubita; sehingga ia akhirnya mengetahui dengan cukup jelas darah yang mengalir dalam nadinya ini. Keturunan salah satu pendiri yang diharapkan untuk menjaga peninggalan mereka--kira-kira begitulah inti yang tertulis di dokumen nenek Asako--dan mengharuskannya memilih sekolah yang berbeda dengan sahabatnya sendiri yang telah terlebih dahulu pindah ke sekolah sihir di Inggris. Tsche. Sekarang, setelah hampir dua tahun berlalu, ia sudah tidak terlalu peduli, toh selama libur musim panas dan musim dingin, ia masih bisa hang out bersama sahabatnya. Lagipula--
--kalau bukan ia yang mengemban tugas ini, siapa lagi yang mampu? Atsushi? Adiknya itu memiliki emosi yang masih labil. Terutama dengan kelakuannya yang seakan ingin menjadi ketua geng. Sementara Aika-nee?--Tomo menyenderkan punggungnya di senderan kursi dan menatap tegak lurus ke langit-langit stasiun, menghela napas berat dengan kelebat demi kelebat rasa khawatir--anak sulung keluarga Tsukishima itu tidak akan mampu. Bahkan untuk berada di luar rumah pun, gadis itu sudah cukup direpoti oleh penyakitnya yang tidak kunjung sembuh itu.
Tomo menegakkan posisi duduknya, jemarinya dengan malas menyentuh earphone putih yang menggantung di telinga kirinya dan melepaskannya dalam diam saat sudut matanya menangkap seorang anak perempuan melompati anak tangga terakhir dan mendarat dengan mulus di lantai marmer stasiun Akita. Anak itu--siapa ya, ngomong-ngomong? Yah, maklum saja, di balik wajah kalem seorang Tomohiko Tsukishima, menyimpan satu kekurangan yang cukup dominan. Nobody's perfect, rite? Pemuda ini cukup kesulitan dalam menghafal nama seseorang, jadi jangan heran kalau ia akan merespon sedikit lama saat orang yang tidak dihafalnya menyapanya seperti saat ini.
Dan hasilnya? Pemuda jangkis itu hanya mengangguk kikuk pada anak perempuan bertopi rajutan itu.
Bodoh.
Anyway, keretanya delay ya?
_________________


Mizuno Akamatsu- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 1
Registration date: 2009-02-12
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 14 y/o, 154 cm/48 kg
Physhical Characteristics:
Mizuno memanyunkan bibirnya begitu sampai di stasiun bawah tanah tujuannya. Ah, bukannya kenapa-napa, ia hanya tidak suka ketika melihat seorang—salah, dua orang—keturunan pendiri Ryokubita lainnya, Ishibashi dan Tsukishima, berada disana. Oh, Azumi sih lain lagi, hanya orang luar. Hm, coba lihat saja sekarang—dengan sekali lihat, Mizuno tahu bahwa atmosfir disana sedang kurang baik. Yah, tahulah sendiri, Ishibashi dan Tsukishima tidak pernah akur terhitung sejak tahun pertamanya. Dan semuanya karena darah leluhur di tubuh mereka. Gadis berpostur mungil ini juga mengemban tugas yang sama seperti ketiga penerus lainnya : menjaga kelangsungan hidup—salah—menjaga kondisi sekolah tua mereka, Akademi Ryokushoku o Obita. Kira-kira begitulah yang Mizuno tangkap dari penjelasan kedua orangtuanya tahun lalu.
Maklum, saudara-saudara. Mizuno agak sedikit lemot.
Terlihat Tsukishima duduk di salah satu bangku besi panjang sendirian dengan headphone—atau earphone—di telinganya. Hum, ingin menghindar dari keramaian rupanya. Mizuno tersenyum kecil ketika bertemu beberapa temannya yang sudah lama berada disana, melambaikan tangannya untuk menyapa. Diliriknya jam tangan dan agak sedikit mengernyit ketika tahu sekarang sudah hampir jam 10.30 malam. Gyah, masih lama dong keretanya? Tapi stasiun malah sudah cukup ramai. Takut ketinggalan kereta, tentu saja, makanya semuanya datang lebih awal. Mizuno juga sama, sih. Gadis berusia lima belas tahun Februari kemarin itu mengembangkan senyumannya semakin lebar ketika menemukan sahabatnya, Kyoko Yamazaki. Namun Kyoko malah beranjak pergi meninggalkan keramaian yang ada di depan Mizuno. Mau kemana, ya? Akhirnya Mizuno memutuskan untuk menghampiri Azumi saja, dengan terpaksa. Mizuno kurang suka Azumi, karena gadis itu cerewetnya minta ampun. Padahal Mizuno juga tidak berbeda jauh. Disisirnya dengan jari rambut panjangnya dan merapikan dress serta blazer nuansa krem yang dikenakannya, tersenyum manis ketika tiba di dekat Azumi. Penampilan Mizuno hari ini cewek sekali, beda dengan Azumi yang menunjukkan ketomboiannya.
"Malam Azumi! Malam, Ishibashi," sapanya seraya melirik Tsukishima yang masih sibuk sendiri. Sekarang sudah genap tiga orang keturunan pendiri Ryokubita berada disini. Kurang seorang. Ah, sebenarnya Azumi tidak menyukai aura persaingan yang tercipta—benar-benar tidak suka. Seandainya saja para leluhur itu tidak berkata bahwa hanya satu orang saja yang bisa mendapatkan Ryokubita sepenuhnya, semuanya tidak akan jadi begini. Ya, seandainya saja kejadian dua tahun lalu itu tidak ada, mungkin Mizuno dan ketiga orang lainnya akan baik-baik saja saat ini. Tak memasang wajah masam dan ketidaksukaan satu sama lain.
Eh, Mizuno pengecualian. Ia tidak pernah pasang muka masam pada siapapun.
Maklum, saudara-saudara. Mizuno agak sedikit lemot.
Terlihat Tsukishima duduk di salah satu bangku besi panjang sendirian dengan headphone—atau earphone—di telinganya. Hum, ingin menghindar dari keramaian rupanya. Mizuno tersenyum kecil ketika bertemu beberapa temannya yang sudah lama berada disana, melambaikan tangannya untuk menyapa. Diliriknya jam tangan dan agak sedikit mengernyit ketika tahu sekarang sudah hampir jam 10.30 malam. Gyah, masih lama dong keretanya? Tapi stasiun malah sudah cukup ramai. Takut ketinggalan kereta, tentu saja, makanya semuanya datang lebih awal. Mizuno juga sama, sih. Gadis berusia lima belas tahun Februari kemarin itu mengembangkan senyumannya semakin lebar ketika menemukan sahabatnya, Kyoko Yamazaki. Namun Kyoko malah beranjak pergi meninggalkan keramaian yang ada di depan Mizuno. Mau kemana, ya? Akhirnya Mizuno memutuskan untuk menghampiri Azumi saja, dengan terpaksa. Mizuno kurang suka Azumi, karena gadis itu cerewetnya minta ampun. Padahal Mizuno juga tidak berbeda jauh. Disisirnya dengan jari rambut panjangnya dan merapikan dress serta blazer nuansa krem yang dikenakannya, tersenyum manis ketika tiba di dekat Azumi. Penampilan Mizuno hari ini cewek sekali, beda dengan Azumi yang menunjukkan ketomboiannya.
"Malam Azumi! Malam, Ishibashi," sapanya seraya melirik Tsukishima yang masih sibuk sendiri. Sekarang sudah genap tiga orang keturunan pendiri Ryokubita berada disini. Kurang seorang. Ah, sebenarnya Azumi tidak menyukai aura persaingan yang tercipta—benar-benar tidak suka. Seandainya saja para leluhur itu tidak berkata bahwa hanya satu orang saja yang bisa mendapatkan Ryokubita sepenuhnya, semuanya tidak akan jadi begini. Ya, seandainya saja kejadian dua tahun lalu itu tidak ada, mungkin Mizuno dan ketiga orang lainnya akan baik-baik saja saat ini. Tak memasang wajah masam dan ketidaksukaan satu sama lain.
Eh, Mizuno pengecualian. Ia tidak pernah pasang muka masam pada siapapun.

Kyoutarou Ishibashi- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 2
Job/Position: Student Association Leader
Registration date: 2009-02-12
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 15 y/o, 173 cm/55 kg
Physhical Characteristics:
Tsukishima. Akamatsu.
Sudah ada Ishibashi disini. Dan—kurang Ishikawa.
"Yo," jawab Kyo singkat pada sapaan Tsukishima, yang dijamin tak akan begitu mendengarnya. Sebuah music player (dalam ponsel) berada pada genggamannya, yang berarti remaja itu tengah mendengarkan sesuatu. Lagu, pastinya. Dan lihat earphone di telinganya? Perfect. Jadi Kyo tak perlu mengulang lagi sapaan singkatnya, toh pada akhirnya Tsukishima tidak akan memulai suatu topik baru dan pembicaraan berarti untuk mereka berdua. Kyo tidak keberatan untuk mengobrol sebenarnya, tapi moodnya sedang agak kurang baik saat ini. Payah. Remaja itu mendengus pelan, memperbaiki posisi sandarannya di dinding stasiun. Kedua bola matanya mengikuti gerak-gerik para murid yang semakin berdatangan. Ia melirik jam tangan : sudah jam sepuluh lewat, rupanya. Kyo sudah bisa mengira-ngira berapa lama ia menunggu sendirian—di stasiun. Well, tepat sebelum Tsukishima datang, Kyo hanya sendirian. Dan sekarang? Sudah hampir ramai. Selalu seperti ini jika mendekati jam 11 malam. Ryokubita Shinkansen sendiri baru datang jam setengah 12 malam.
Dan itu—masih sangat lama.
"Yo, Iseya," balas Kyo menyapa adik kelasnya di Asrama Kiku, Azumi Iseya. Kyo kenal gadis itu secara tidak langsung. Bisa dibilang Iseya adalah salah satu dari sekian anak yang diwawancarai pihak Organisasi Siswa yang diketuai Kyo terhitung pertengahan tahun kemarin, gadis yang berminat untuk berkecimpung dalam Divisi Inti. Dan apakah gadis itu berhasil? Lihat saja nanti beberapa hari lagi. Kyo dan para anggota lainnya masih belum fix memilih bibit-bibit baru untuk mengabdi pada Ryokubita. Akamatsu—Mizuno maksudnya—sebenarnya juga diwawancarai, tapi entah mengapa Kyo agak meragukan kinerja gadis itu. Iseya, atau Mizuno? Memusingkan. Baru disadarinya, ia belum membalas sapaan Mizuno. Gadis itu bisa ngambek berat kalau ada yang tidak membalas sapaannya, "Malam, Mizuno! Hanya sendiri?" Yeah, biasanya Mizuno selalu bersama Yamazaki. Tumben sekali. Kyo melirik ke arah tangga naik stasiun, kosong—tapi saat ini ia seperti setengah berharap.
Kemana Kaoru?
"Tidak lihat Ishikawa di luar, Iseya? Mizuno?" tanyanya ragu-ragu, merasa telah menggali kuburannya sendiri bertanya mengenai gadis itu. Ya, Kaoru Ishikawa—kalau boleh jujur, cinta pertamanya dari kecil. Bahkan sepertinya tugas yang diembannya sebagai seorang keturunan Himeko Ishibashi, tidak mampu menghilangkan perasaan itu. Kyo menyukai Kaoru dari umur mereka tujuh tahun. Satu sekolah. Dan begitu masing-masing dari mereka diberikan tugas yang sama dan diwajibkan untuk saling berseteru satu sama lain—entahlah. Kyo sendiri agak keberatan. Entah apa yang dipikirkan tiga keturunan yang lain : bersediakah mereka mengabdi untuk keluarga? Demi keluarga yang memiliki sejarah ratusan tahun dalam dunia penyihir? Dan menjaga kelangsungan pendidikan serta organisasi yang ada dalam Ryokubita?
Yang remaja ini tahu—semua terpaksa ia lakukan demi adiknya. Hikaru.
Sudah ada Ishibashi disini. Dan—kurang Ishikawa.
"Yo," jawab Kyo singkat pada sapaan Tsukishima, yang dijamin tak akan begitu mendengarnya. Sebuah music player (dalam ponsel) berada pada genggamannya, yang berarti remaja itu tengah mendengarkan sesuatu. Lagu, pastinya. Dan lihat earphone di telinganya? Perfect. Jadi Kyo tak perlu mengulang lagi sapaan singkatnya, toh pada akhirnya Tsukishima tidak akan memulai suatu topik baru dan pembicaraan berarti untuk mereka berdua. Kyo tidak keberatan untuk mengobrol sebenarnya, tapi moodnya sedang agak kurang baik saat ini. Payah. Remaja itu mendengus pelan, memperbaiki posisi sandarannya di dinding stasiun. Kedua bola matanya mengikuti gerak-gerik para murid yang semakin berdatangan. Ia melirik jam tangan : sudah jam sepuluh lewat, rupanya. Kyo sudah bisa mengira-ngira berapa lama ia menunggu sendirian—di stasiun. Well, tepat sebelum Tsukishima datang, Kyo hanya sendirian. Dan sekarang? Sudah hampir ramai. Selalu seperti ini jika mendekati jam 11 malam. Ryokubita Shinkansen sendiri baru datang jam setengah 12 malam.
Dan itu—masih sangat lama.
"Yo, Iseya," balas Kyo menyapa adik kelasnya di Asrama Kiku, Azumi Iseya. Kyo kenal gadis itu secara tidak langsung. Bisa dibilang Iseya adalah salah satu dari sekian anak yang diwawancarai pihak Organisasi Siswa yang diketuai Kyo terhitung pertengahan tahun kemarin, gadis yang berminat untuk berkecimpung dalam Divisi Inti. Dan apakah gadis itu berhasil? Lihat saja nanti beberapa hari lagi. Kyo dan para anggota lainnya masih belum fix memilih bibit-bibit baru untuk mengabdi pada Ryokubita. Akamatsu—Mizuno maksudnya—sebenarnya juga diwawancarai, tapi entah mengapa Kyo agak meragukan kinerja gadis itu. Iseya, atau Mizuno? Memusingkan. Baru disadarinya, ia belum membalas sapaan Mizuno. Gadis itu bisa ngambek berat kalau ada yang tidak membalas sapaannya, "Malam, Mizuno! Hanya sendiri?" Yeah, biasanya Mizuno selalu bersama Yamazaki. Tumben sekali. Kyo melirik ke arah tangga naik stasiun, kosong—tapi saat ini ia seperti setengah berharap.
Kemana Kaoru?
"Tidak lihat Ishikawa di luar, Iseya? Mizuno?" tanyanya ragu-ragu, merasa telah menggali kuburannya sendiri bertanya mengenai gadis itu. Ya, Kaoru Ishikawa—kalau boleh jujur, cinta pertamanya dari kecil. Bahkan sepertinya tugas yang diembannya sebagai seorang keturunan Himeko Ishibashi, tidak mampu menghilangkan perasaan itu. Kyo menyukai Kaoru dari umur mereka tujuh tahun. Satu sekolah. Dan begitu masing-masing dari mereka diberikan tugas yang sama dan diwajibkan untuk saling berseteru satu sama lain—entahlah. Kyo sendiri agak keberatan. Entah apa yang dipikirkan tiga keturunan yang lain : bersediakah mereka mengabdi untuk keluarga? Demi keluarga yang memiliki sejarah ratusan tahun dalam dunia penyihir? Dan menjaga kelangsungan pendidikan serta organisasi yang ada dalam Ryokubita?
Yang remaja ini tahu—semua terpaksa ia lakukan demi adiknya. Hikaru.

Kasumi Himura- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 1
Job/Position: Fuku Kaichou (VIII-2)
Registration date: 2009-02-10
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 14 y/o, 160 cm/49 kg
Physhical Characteristics:
Kasumi Himura.
Gadis berambut hitam sebahu itu berjalan anggun menatap lurus pada jalanan yang sepi. Jam sakunya yang ia simpan di dalam rok hitam berendanya sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Well, hanya orang tua murid dan anaknya yang akan bersekolah Ryoukubita sajalah yang masih berseliweran di jam malam. Mereka semua mengantarkan anaknya hingga ke stasiun Akita. Kasumi mendengus melihat beberapa calon murid yang diantar oleh orang tua mereka. Mereka seperti anak kecil saja! Yeap—Kasumi memang sudah tidak mempunyai kedua orang tua. Gadis berumur lima belas tahun itu hanya tinggal di sebuah kastil bersama kedua orang tua dari pihak ayah.
Kasumi sudah bisa mandiri sejak kedua orang tua nya kecelakaan di usianya sepuluh tahun. Gadis itu beruntung tidak meninggal saat kecelakaan. Ia tertolong karena sang ayahnya mengeluarkan mantra pelindung dan mendorong keluar Kasumi dari mobil sebelum mobil mereka terjatuh ke dalam sebuah jurang. Keluarga Himura asli penyihir—berdarah murni dan keturunan seorang bangsawan Himura. Gadis bertubuh semampai itu sengaja datang tanpa seorang pelayan pribadinya untuk mengantarkan gadis itu hingga ke stasiun Akita.
Kasumi yang sudah berada tingkat dua di Ryoukubita kini melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam stasiun Akita. Perlu diketahui—gadis itu tidak terlihat sering menggunakan barang elektronik, seperti mp3 player atau handphone. Kedua barang elektronik tersebut memang disukai oleh anak yang seumuran dengannya. Namun—Kasumi lebih menyukai barang antik. Pengingat waktunya saja, ia menggunakan jam saku—bukan jam tangan atau jam yang terpampang di layar handphone.
“Midori no kutsu," ucapnya pada kata kunci untuk membuka pilar ke delapan dengan lemah lembut sekaligus anggun. Kasumi selalu menjaga imagenya dengan baik—walau terkadang, ia bisa meluapkan amarahnya tanpa sebab atau berkata sinis namun terdengan kesan menyindir secara halus pada orang ia kenal. Ia segera menutup kedua bola matanya—karena cahaya yang menyilaukan. Ia selalu merutuk kesal ketika harus melewati cahaya yang menyilaukan itu saat menuruni tangga menuju stasiun ruang bawah tanah.
Hmm—sudah empat murid yang menunggu kereta.
"Selamat malam, semuanya." sapa Kasumi dengan mengangguk kecil pada keempat murid Ryokubita. Dua murid adalah kakak kelasnya dan yang dua lagi, teman seangkatannya. Iseya si gadis hiperaktif namun tingkahnya seperti anak kecil saja dan Akamatsu, si gadis yang terlalu ceria dan sedikit lemah otak.
Ups.
Gadis berambut hitam sebahu itu berjalan anggun menatap lurus pada jalanan yang sepi. Jam sakunya yang ia simpan di dalam rok hitam berendanya sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Well, hanya orang tua murid dan anaknya yang akan bersekolah Ryoukubita sajalah yang masih berseliweran di jam malam. Mereka semua mengantarkan anaknya hingga ke stasiun Akita. Kasumi mendengus melihat beberapa calon murid yang diantar oleh orang tua mereka. Mereka seperti anak kecil saja! Yeap—Kasumi memang sudah tidak mempunyai kedua orang tua. Gadis berumur lima belas tahun itu hanya tinggal di sebuah kastil bersama kedua orang tua dari pihak ayah.
Kasumi sudah bisa mandiri sejak kedua orang tua nya kecelakaan di usianya sepuluh tahun. Gadis itu beruntung tidak meninggal saat kecelakaan. Ia tertolong karena sang ayahnya mengeluarkan mantra pelindung dan mendorong keluar Kasumi dari mobil sebelum mobil mereka terjatuh ke dalam sebuah jurang. Keluarga Himura asli penyihir—berdarah murni dan keturunan seorang bangsawan Himura. Gadis bertubuh semampai itu sengaja datang tanpa seorang pelayan pribadinya untuk mengantarkan gadis itu hingga ke stasiun Akita.
Kasumi yang sudah berada tingkat dua di Ryoukubita kini melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam stasiun Akita. Perlu diketahui—gadis itu tidak terlihat sering menggunakan barang elektronik, seperti mp3 player atau handphone. Kedua barang elektronik tersebut memang disukai oleh anak yang seumuran dengannya. Namun—Kasumi lebih menyukai barang antik. Pengingat waktunya saja, ia menggunakan jam saku—bukan jam tangan atau jam yang terpampang di layar handphone.
“Midori no kutsu," ucapnya pada kata kunci untuk membuka pilar ke delapan dengan lemah lembut sekaligus anggun. Kasumi selalu menjaga imagenya dengan baik—walau terkadang, ia bisa meluapkan amarahnya tanpa sebab atau berkata sinis namun terdengan kesan menyindir secara halus pada orang ia kenal. Ia segera menutup kedua bola matanya—karena cahaya yang menyilaukan. Ia selalu merutuk kesal ketika harus melewati cahaya yang menyilaukan itu saat menuruni tangga menuju stasiun ruang bawah tanah.
Hmm—sudah empat murid yang menunggu kereta.
"Selamat malam, semuanya." sapa Kasumi dengan mengangguk kecil pada keempat murid Ryokubita. Dua murid adalah kakak kelasnya dan yang dua lagi, teman seangkatannya. Iseya si gadis hiperaktif namun tingkahnya seperti anak kecil saja dan Akamatsu, si gadis yang terlalu ceria dan sedikit lemah otak.
Ups.
_________________


Tomohiko Tsukishima- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 15
Registration date: 2009-02-12
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 15 y/0, 170 cm/56 kg
Physhical Characteristics:
Percayalah, memiliki ketidak pedulian terhadap lingkungan memang terkadang menyulitkan, terutama bagi orang-orang yang jarang bertegur sapa atau cukup nyentrik di mata Tomo; maaf saja kalau pemuda ini lebih cenderung diam ketimbang salah menyebutkan nama orang yang tidak diingatnya. Akan menambah repot masalah, menurutnya. Lagipula—sangat tidak seperti Tomo jika ia bersikap selayaknya anak kecil hiperaktif—seperti yang dilakukan banyak remaja seumurnya demi memikat hati perempuan yang diincarnya. Diam itu emas, bukankah begitu?
Sebuah suara anak perempuan terdengar dari arah tangga ruang bawah tanah ini—Mizuno Akamatsu—menyapa Ishibashi dan Azumi. Oh… jadi nama si topi rajut itu Azumi. Oke, ingat itu baik-baik, Tomohiko. Cobalah mulai respek terhadap lingkungan, bukan ide yang buruk juga, eh? Yah—coba saja, toh tidak ada salahnya. Tomo memiringkan wajahnya, matanya bergerak mengikuti gerak-gerik Ishibashi yang langsung merespon Akamatsu dengan sapaan ramah—sapaan hangat yang biasanya juga dilakukan oleh sepasang sahabat kecil seperti dirinya dan Ishibashi beberapa tahun yang lalu; tentunya sebelum keadaan memaksa mereka untuk tidak bergaul sedekat dahulu.
Tomo masih ingat, saat-saat mereka—keempat keturunan pendiri Ryokusoku o Obita—masih sering bermain-main bersama. Mereka semua sahabat sejak masih kecil dan tumbuh bersama walau tidak setiap hari, paling tidak, hingga beberapa tahun yang lalu, mereka masih akur. Masih saling bertegur sapa satu sama lain ataupun hang out bersama membicarakan hal-hal remeh yang terkadang tidak penting. Tapi kini semuanya hancur. Antara dirinya dan Ishibashi yang dahulu sudah seperti sepasang saudara kandung pun ikut rusak—begitu pula hubungannya dengan Akamatsu dan Ishikawa. Kedekatan itu melekat erat, hingga bohong jika Tomo tidak rindu saat-saat kecil mereka yang tanpa halangan sama sekali.
Rindu saat mereka masih saling memanggil dengan nama kecil. Dan sekarang, semua itu nampak menyedihkan di matanya.
Sebuah senyum kecut menghiasi wajah Tomo, sama sekali tidak manis dan sangat tipis. Ia melipat wajahnya, menatap kosong handphone flip putihnya yang tergenggam oleh tangan kirinya untuk yang kesekian kali. Tanpa memedulikan seorang gadis yang berasal dari asrama yang sama dengannya sudah bergabung dengan mereka. Ia menutup kedua kelopak matanya, mencoba terlelap setidaknya hingga kereta benar-benar da—
—TOOOTT!
Sekejap, kedua kelopak mata itu kembali terbuka dan menampilkan sepasang bola mata putih dengan iris cokelat terang yang jernih. Ditegakkannya tubuhnya—bersiap mengambil tiket yang berada di kantung depan kopernya, dan egera bangkit untuk mendekati si kereta semi modern yang kini sudah merayap, bersiap-siap untuk berhenti di perhentian pertamanya. Ryokubita Shinkansen. Sekilas, tidak ada yang salah dengan kereta super cepat ini. Tampilan luarnya tidak terlalu nyentrik seperti selayaknya shinkansen lainnya. Namun perbedaannya akan segera nampak—
—apa itu? Lihat saja nanti
Last edited by Tomohiko Tsukishima on Tue Apr 07, 2009 11:18 pm; edited 1 time in total
Sebuah suara anak perempuan terdengar dari arah tangga ruang bawah tanah ini—Mizuno Akamatsu—menyapa Ishibashi dan Azumi. Oh… jadi nama si topi rajut itu Azumi. Oke, ingat itu baik-baik, Tomohiko. Cobalah mulai respek terhadap lingkungan, bukan ide yang buruk juga, eh? Yah—coba saja, toh tidak ada salahnya. Tomo memiringkan wajahnya, matanya bergerak mengikuti gerak-gerik Ishibashi yang langsung merespon Akamatsu dengan sapaan ramah—sapaan hangat yang biasanya juga dilakukan oleh sepasang sahabat kecil seperti dirinya dan Ishibashi beberapa tahun yang lalu; tentunya sebelum keadaan memaksa mereka untuk tidak bergaul sedekat dahulu.
Tomo masih ingat, saat-saat mereka—keempat keturunan pendiri Ryokusoku o Obita—masih sering bermain-main bersama. Mereka semua sahabat sejak masih kecil dan tumbuh bersama walau tidak setiap hari, paling tidak, hingga beberapa tahun yang lalu, mereka masih akur. Masih saling bertegur sapa satu sama lain ataupun hang out bersama membicarakan hal-hal remeh yang terkadang tidak penting. Tapi kini semuanya hancur. Antara dirinya dan Ishibashi yang dahulu sudah seperti sepasang saudara kandung pun ikut rusak—begitu pula hubungannya dengan Akamatsu dan Ishikawa. Kedekatan itu melekat erat, hingga bohong jika Tomo tidak rindu saat-saat kecil mereka yang tanpa halangan sama sekali.
Rindu saat mereka masih saling memanggil dengan nama kecil. Dan sekarang, semua itu nampak menyedihkan di matanya.
Sebuah senyum kecut menghiasi wajah Tomo, sama sekali tidak manis dan sangat tipis. Ia melipat wajahnya, menatap kosong handphone flip putihnya yang tergenggam oleh tangan kirinya untuk yang kesekian kali. Tanpa memedulikan seorang gadis yang berasal dari asrama yang sama dengannya sudah bergabung dengan mereka. Ia menutup kedua kelopak matanya, mencoba terlelap setidaknya hingga kereta benar-benar da—
—TOOOTT!
Sekejap, kedua kelopak mata itu kembali terbuka dan menampilkan sepasang bola mata putih dengan iris cokelat terang yang jernih. Ditegakkannya tubuhnya—bersiap mengambil tiket yang berada di kantung depan kopernya, dan egera bangkit untuk mendekati si kereta semi modern yang kini sudah merayap, bersiap-siap untuk berhenti di perhentian pertamanya. Ryokubita Shinkansen. Sekilas, tidak ada yang salah dengan kereta super cepat ini. Tampilan luarnya tidak terlalu nyentrik seperti selayaknya shinkansen lainnya. Namun perbedaannya akan segera nampak—
—apa itu? Lihat saja nanti
Last edited by Tomohiko Tsukishima on Tue Apr 07, 2009 11:18 pm; edited 1 time in total
_________________


Reira Hodo- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 1
Registration date: 2009-03-19
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 14, 157/45
Physhical Characteristics:
Hakamadote Housing Area—11.45 PM
Buku, sudah. Kaus kaki, sudah. Oke, apa yang kurang?
Ah, jimat!
Reira Hodo membalikkan badan dan matanya langsung bertatapan tepat dengan jimat yang tergantung di paku dinding kayu rumah kecilnya. Tanpa tersenyum ia segera mengalungkan jimat ke lehernya yang kurus. Kemudian matanya terpaku pada jam dinding. Masih 15 menit lagi hingga Ryokubita Shinkansen memberangkatkan siswa-siswinya dari Akita Station menuju Hakamadote Station.
Itu berarti—
Waktunya tinggal dua jam lima belas menit lagi sebelum kembali ke sekolah. Ia masih sempat menanak nasi untuk ibunya yang masih membuat roti di pabrik milik Ebi-sama. Oke, kurangi lagi 15 menit untuk berjalan kaki menyeret koper menuju Hakamadote Station—sendirian. Iya, sendirian. Mana tega ia menyuruh ibunya mengantarkan setelah bekerja keras di pabrik roti.
Hakamadote Street—01.20 AM
Sial, sial, sial dobel sial.
Tasnya berat sekali. Kopernya sih tidak masalah. Masih ada gesekkan roda yang meringankannya. Tapi tas yang dicangklongkannya di pundak berisi buku-buku pelajaran yang ia beli di toko loak. Berat. Reira yakin beratnya mencapai tiga kilogram. Oke, ia hanya menebak-nebak soal berat tadi. Coba kau sendiri yang menggendongnya, kau pun akan mengeluh sama seperti dirinya.
Jalan Hakamadote sepi dan gelap. Kecuali beberapa buruh pabrik yang bergegas pulang ke rumah masing-masing, ia tidak melihat ada bahaya. Ini desa kecil. Semua orang saling mengenal. Reira sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Ia bisa karate, asal tahu saja. Reira kemudian berbelok di persimpangan jalan dan melotot lebar saat menatap undakan menuju Hakamdote Station. Jika ditilik dari tulisan papan penunjuk jalan, undakan itu memiliki 150 anak tangga. Tinggi keseluruhan? Tak usah bertanya. Karena Reira hanya akan menyemprotkan makian-makian yang tak pantas diucapkan anak berusia 14 tahun manapun. Damn!
Tahun lalu, saat pertama kali ia masuk Ryokubita, ibunya yang mengantar hingga ke stasiun. Praktis, koper berada di tangan Ibunya, dan Reira tinggal menyeret tasnya dengan susah payah. Sekarang dobel sial. Karena ia dengan sombongnya meyakinkan ibunya bahwa ia sanggup berangkat sendiri. Haha, siapa yang tertawa miris sekarang?
Andaikata ia boleh memakai sihir.. You wish.
Hakamadote Station—01.50 AM
Udara dini hari selalu dingin tak peduli seberapa hangat iklim di daerahmu. Tapi semilir angin yang harusnya menusuk tulang tak sanggup menembus kulit Reira. Ia sama sekali tak merasakan hawa dingin. Ia kegerahan. 150 anak tangga, bayangkan! Kau tahu sendiri undakan di desa Jepang securam apa? Biasanya ia akan dengan bangga menceritakan desa Hakamadote yang indah dan penuh akan nilai seni dan budaya, tapi tidak pagi ini. Ia merutuki leluhur yang membuat undakan curam nan panjang karena bisa membuat gadis empat belas tahun menderita encok dini! Tak ada rumus pitagoras, pasti. Makanya mereka asal membuatnya tanpa mengindahkan betapa tersiksanya pengguna tangga.
Dengar itu, hei, nenek moyang si pelaut!
Oke, stop memaki-maki leluhurmu kalau kau tidak ingin kena kutuk. Fine.
Reira melirik jam dinding stasiun yang super besar. Kurang 10 menit lagi Ryokubita Shinkansen datang. Ia masih sempat membersihkan wajahnya dari peluh. Merapikan rambut, dan memasang pose manis untuk menyambut murid-murid lain. Selama setahun lalu ia mengaku tinggal di Desa Hakamadote, tapi tidak ada yang tahu apa pekerjaan ibunya. Yeah, tidak ada yang boleh tahu Reira seorang anak buruh pabrik roti. Tidak. Boleh. Ada. Yang. Tahu. Itu hanya menjatuhkan reputasi.
Di Ryokubita, ia adalah seorang gadis cerdas dan sibuk. Setidaknya sampai tahun lalu—dan semoga saja tahun depan pun masih sama—ia terkenal karena aktif dan mau tahu. Oke, katakanlah ambisius. Ia tidak menyangkalnya. Karena ia ingin memperbaiki taraf hidup. Kau tahu satu-satunya jalan untuk memperbaiki taraf hidup? Kerja keras. Kalau perlu, jatuhkan temanmu sendiri untuk mencapai kesuksesan. Benar, bukan?
—Dua menit lagi
Ia sudah bisa melihat lampu kereta dari sini. Tangannya otomatis berhenti merapikan poninya. Ia berdiri dengan sikap manis, bibirnya ia coba ditarik melengkung ke atas. Here they come.. the students. Welcome, ohoho..
Buku, sudah. Kaus kaki, sudah. Oke, apa yang kurang?
Ah, jimat!
Reira Hodo membalikkan badan dan matanya langsung bertatapan tepat dengan jimat yang tergantung di paku dinding kayu rumah kecilnya. Tanpa tersenyum ia segera mengalungkan jimat ke lehernya yang kurus. Kemudian matanya terpaku pada jam dinding. Masih 15 menit lagi hingga Ryokubita Shinkansen memberangkatkan siswa-siswinya dari Akita Station menuju Hakamadote Station.
Itu berarti—
Waktunya tinggal dua jam lima belas menit lagi sebelum kembali ke sekolah. Ia masih sempat menanak nasi untuk ibunya yang masih membuat roti di pabrik milik Ebi-sama. Oke, kurangi lagi 15 menit untuk berjalan kaki menyeret koper menuju Hakamadote Station—sendirian. Iya, sendirian. Mana tega ia menyuruh ibunya mengantarkan setelah bekerja keras di pabrik roti.
Hakamadote Street—01.20 AM
Sial, sial, sial dobel sial.
Tasnya berat sekali. Kopernya sih tidak masalah. Masih ada gesekkan roda yang meringankannya. Tapi tas yang dicangklongkannya di pundak berisi buku-buku pelajaran yang ia beli di toko loak. Berat. Reira yakin beratnya mencapai tiga kilogram. Oke, ia hanya menebak-nebak soal berat tadi. Coba kau sendiri yang menggendongnya, kau pun akan mengeluh sama seperti dirinya.
Jalan Hakamadote sepi dan gelap. Kecuali beberapa buruh pabrik yang bergegas pulang ke rumah masing-masing, ia tidak melihat ada bahaya. Ini desa kecil. Semua orang saling mengenal. Reira sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Ia bisa karate, asal tahu saja. Reira kemudian berbelok di persimpangan jalan dan melotot lebar saat menatap undakan menuju Hakamdote Station. Jika ditilik dari tulisan papan penunjuk jalan, undakan itu memiliki 150 anak tangga. Tinggi keseluruhan? Tak usah bertanya. Karena Reira hanya akan menyemprotkan makian-makian yang tak pantas diucapkan anak berusia 14 tahun manapun. Damn!
Tahun lalu, saat pertama kali ia masuk Ryokubita, ibunya yang mengantar hingga ke stasiun. Praktis, koper berada di tangan Ibunya, dan Reira tinggal menyeret tasnya dengan susah payah. Sekarang dobel sial. Karena ia dengan sombongnya meyakinkan ibunya bahwa ia sanggup berangkat sendiri. Haha, siapa yang tertawa miris sekarang?
Andaikata ia boleh memakai sihir.. You wish.
Hakamadote Station—01.50 AM
Udara dini hari selalu dingin tak peduli seberapa hangat iklim di daerahmu. Tapi semilir angin yang harusnya menusuk tulang tak sanggup menembus kulit Reira. Ia sama sekali tak merasakan hawa dingin. Ia kegerahan. 150 anak tangga, bayangkan! Kau tahu sendiri undakan di desa Jepang securam apa? Biasanya ia akan dengan bangga menceritakan desa Hakamadote yang indah dan penuh akan nilai seni dan budaya, tapi tidak pagi ini. Ia merutuki leluhur yang membuat undakan curam nan panjang karena bisa membuat gadis empat belas tahun menderita encok dini! Tak ada rumus pitagoras, pasti. Makanya mereka asal membuatnya tanpa mengindahkan betapa tersiksanya pengguna tangga.
Dengar itu, hei, nenek moyang si pelaut!
Oke, stop memaki-maki leluhurmu kalau kau tidak ingin kena kutuk. Fine.
Reira melirik jam dinding stasiun yang super besar. Kurang 10 menit lagi Ryokubita Shinkansen datang. Ia masih sempat membersihkan wajahnya dari peluh. Merapikan rambut, dan memasang pose manis untuk menyambut murid-murid lain. Selama setahun lalu ia mengaku tinggal di Desa Hakamadote, tapi tidak ada yang tahu apa pekerjaan ibunya. Yeah, tidak ada yang boleh tahu Reira seorang anak buruh pabrik roti. Tidak. Boleh. Ada. Yang. Tahu. Itu hanya menjatuhkan reputasi.
Di Ryokubita, ia adalah seorang gadis cerdas dan sibuk. Setidaknya sampai tahun lalu—dan semoga saja tahun depan pun masih sama—ia terkenal karena aktif dan mau tahu. Oke, katakanlah ambisius. Ia tidak menyangkalnya. Karena ia ingin memperbaiki taraf hidup. Kau tahu satu-satunya jalan untuk memperbaiki taraf hidup? Kerja keras. Kalau perlu, jatuhkan temanmu sendiri untuk mencapai kesuksesan. Benar, bukan?
—Dua menit lagi
Ia sudah bisa melihat lampu kereta dari sini. Tangannya otomatis berhenti merapikan poninya. Ia berdiri dengan sikap manis, bibirnya ia coba ditarik melengkung ke atas. Here they come.. the students. Welcome, ohoho..

Kaito Amamoto- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 2
Registration date: 2009-04-06
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 14 y/o 169cm/54kg
Physhical Characteristics:
Hening.
Keheningan melanda malam tersebut, sebuah malam yang indah dengan alunan angin yang bertiup sepoi sepoi. Keheningan yang tercipta dikota tersebut tampaknya sedikit ganjil. Tidak terdengar suara pada pendengaran seorang Kaito, hanya layaknya keheningan. Meditasi. Itulah yang ia lakukan sambil berjalan ketempat tujuannya, tempat dimana semuanya berkumpul. Kembali ke—akademi. Meluruskan kacamata miliknya dan berjalan tenang melalui jalan jalan dalam keheningan malam tersebut. Terdengar suara kendaraan yang mengebut, namun tidak dihiraukan. Hening dapat dikatakan. Kaito memandang kearah bulan tersebut, tersenyum sejenak. Senyuman tipis dari wajahnya dan mengumamkan sesuatu kepada dirinya sendiri.
Apakah aku akan terus seperti ini?
Sejenak terhenti, mengumpulkan kekuatan dikepalan tangan kanannya. Ingin rasanya, merombak sesuatu menjadi lebih baik. Dunia ini—tampaknya menyenangkan. Terlahir sebagai seorang, Amamoto. Mungkin itulah yang menarik dari dunia ini. Melangkah perlahan menyusuri pinggiran danau untuk pergi ke tempat itu. Tempat dimana semuanya bermula, sebuah tempat dimana apa yang seharusnya tidak diketahui oleh dunia ini berada. Tempat dimana hanya sekumpulan orang saja yang tahu akan semua itu. Memasukan kedua tangannya kedalam sakunya berjalan pelan menuju tempat tersebut. Lolongan anjing menghiasi malam tersebut, seiring ia akhirnya sampai ditempat tujuannya sebenarnya.
Midori—no—kutsu.
Itulah yang digumamkan oleh Kaito, memandang kearah pilar yang sekarang terbuka sekarang dari balik kacamatanya. Sejenak, menunggu semuanya itu terbuka dan ia mulai masuk ketempat itu. Melangkah pelan, setapak demi setapak. Keheningan tersebut tampaknya sudah mulai menghilang, suara manusia. Terdengar dari telinga seorang Kaito ini. Tersenyum tipis diwajahnya melihat situasi ditempat itu—tampaknya sebagian besar dari mereka telah berkumpul? Ataukah masih banyak yang belum datang. Tidak masalah sebenarnya, Kai hanya tersenyum, mengangguk kearah mereka semua. Menatap kearah mereka semua dibalik kacamatanya.
Tampaknya, sifat ini—sedikit, menyusahkan.
“Berapa lama lagi baru akan datang, guys?”
Menatap kearah mereka semua, tampaknya sebagian besar dari mereka sudah berkumpul? Mungkin. Setidaknya ia sudah melihat Himura, Hodo, Ishibashi, Tsukishima, Iseya, Akamatsu dan—tampaknya yang lain akan menyusul. Fuuh—tampaknya bermain main dengan kepribadian seperti ini sedikit sulit. Sedikit malu tapi mengubah sifatnya sedikit untuk menjadi lebih ramah setidaknya itulah yang dilakukan oleh seorang Kaito Amamoto ini. Tidak ada yang berbeda sebenarnya dari dirinya yang sebelumnya. Hanya mengubah penampilan sedikit.
Jadi? Sekarang apa?
Menunggu sampai keretanya datang atau bagaimana? Keheningan sejenak melanda ditempat itu. Ia merasa sedikit canggung dengan situasi ditempat itu, nampaknya mereka semua juga masih dalam tahap tunggu menunggu. Apa yang mereka lakukan sekarang? Kaito juga tidak tahu menahu akan soal itu.
Keheningan melanda malam tersebut, sebuah malam yang indah dengan alunan angin yang bertiup sepoi sepoi. Keheningan yang tercipta dikota tersebut tampaknya sedikit ganjil. Tidak terdengar suara pada pendengaran seorang Kaito, hanya layaknya keheningan. Meditasi. Itulah yang ia lakukan sambil berjalan ketempat tujuannya, tempat dimana semuanya berkumpul. Kembali ke—akademi. Meluruskan kacamata miliknya dan berjalan tenang melalui jalan jalan dalam keheningan malam tersebut. Terdengar suara kendaraan yang mengebut, namun tidak dihiraukan. Hening dapat dikatakan. Kaito memandang kearah bulan tersebut, tersenyum sejenak. Senyuman tipis dari wajahnya dan mengumamkan sesuatu kepada dirinya sendiri.
Apakah aku akan terus seperti ini?
Sejenak terhenti, mengumpulkan kekuatan dikepalan tangan kanannya. Ingin rasanya, merombak sesuatu menjadi lebih baik. Dunia ini—tampaknya menyenangkan. Terlahir sebagai seorang, Amamoto. Mungkin itulah yang menarik dari dunia ini. Melangkah perlahan menyusuri pinggiran danau untuk pergi ke tempat itu. Tempat dimana semuanya bermula, sebuah tempat dimana apa yang seharusnya tidak diketahui oleh dunia ini berada. Tempat dimana hanya sekumpulan orang saja yang tahu akan semua itu. Memasukan kedua tangannya kedalam sakunya berjalan pelan menuju tempat tersebut. Lolongan anjing menghiasi malam tersebut, seiring ia akhirnya sampai ditempat tujuannya sebenarnya.
Midori—no—kutsu.
Itulah yang digumamkan oleh Kaito, memandang kearah pilar yang sekarang terbuka sekarang dari balik kacamatanya. Sejenak, menunggu semuanya itu terbuka dan ia mulai masuk ketempat itu. Melangkah pelan, setapak demi setapak. Keheningan tersebut tampaknya sudah mulai menghilang, suara manusia. Terdengar dari telinga seorang Kaito ini. Tersenyum tipis diwajahnya melihat situasi ditempat itu—tampaknya sebagian besar dari mereka telah berkumpul? Ataukah masih banyak yang belum datang. Tidak masalah sebenarnya, Kai hanya tersenyum, mengangguk kearah mereka semua. Menatap kearah mereka semua dibalik kacamatanya.
Tampaknya, sifat ini—sedikit, menyusahkan.
“Berapa lama lagi baru akan datang, guys?”
Menatap kearah mereka semua, tampaknya sebagian besar dari mereka sudah berkumpul? Mungkin. Setidaknya ia sudah melihat Himura, Hodo, Ishibashi, Tsukishima, Iseya, Akamatsu dan—tampaknya yang lain akan menyusul. Fuuh—tampaknya bermain main dengan kepribadian seperti ini sedikit sulit. Sedikit malu tapi mengubah sifatnya sedikit untuk menjadi lebih ramah setidaknya itulah yang dilakukan oleh seorang Kaito Amamoto ini. Tidak ada yang berbeda sebenarnya dari dirinya yang sebelumnya. Hanya mengubah penampilan sedikit.
Jadi? Sekarang apa?
Menunggu sampai keretanya datang atau bagaimana? Keheningan sejenak melanda ditempat itu. Ia merasa sedikit canggung dengan situasi ditempat itu, nampaknya mereka semua juga masih dalam tahap tunggu menunggu. Apa yang mereka lakukan sekarang? Kaito juga tidak tahu menahu akan soal itu.

Ina Matsumoto- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 4
Age: 14
Registration date: 2009-04-06
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 14, 158/42
Physhical Characteristics:
Masih seperti tahun kemarin. Mata hazelnya kembali mengerjap ketika ia sampai di tempat ini. Stasiun Akita di malam buta seperti ini. Hey, pikirmu sejak kapan seorang gadis diperbolehkan untuk keluar semalam ini? Sepertinya kalian ketinggalan suatu informasi. Ina Matsumoto, gadis berusia empat belas tahun itu, berada disini karena satu tujuan. Kembali ke sekolah. Ryokubita. Mengerti kan?
Krik krik krik.
Sumpah disini hening.
Seraya berjalan menuju Lobby Selatan Stasiun Akita—yang notabene telah diberi kekkai, sehingga sepertinya jarang dikunjungi orang lain, ia melirik ke jam tangan berwarna biru langitnya. Ah yeah, tinggal beberapa menit lagi Ryokubita Shinkansen akan datang. Gadis pecinta modernisasi itu hanya tersenyum tipis melirik jarum jam yang berputar-putar itu. Tangan sebelah kanannya kembali menarik koper berwarna biru tua menuju tiang kedelapan. Kedua telinganya terpasang sepasang headset—yang tersambung ke handphonenya. Tidak diragukan lagi kalau barang-barang elektronik seperti itupun sangat diperlukan gadis seusianya. Eh ya, meracau.
Sudah sampai. Ucapkan kata kuncinya, Ina-chan.
"Midori no kutsu," gumamnya pelan. Ia langsung melangkah mundur sebanyak empat langkah demi menghindari sinar cahaya yang kalau kau lihat langsung bisa buta seketika—tidak sebegitu juga sih sebenarnya, hanya saja kau akan merasa silau. Bayangkan saja kalau kau harus melihat matahari tanpa menghindar sama sekali dari jarak dekat. Matamu pasti sudah habis terbakar dan akan buta seketika. Okay, dengan segera Ina langsung menuruni tangga. Memangnya kau mengharapkan apa yang terlihat setelah cahaya tadi memudar? Pintu ajaib yang bisa kemana saja? Mimpimu.
Eh? Ternyata sudah banyak yang datang? Hei, Ina. Memangnya hanya kau sendiri yang akan pergi ke Ryokubita? "Selamat malam, semua," ujarnya sambil tersenyum tipis. Kedua tangannya terlihat mau merapatkan lagi jaket tipis yang ia pakai saat ini, dan ia masih menyunggingkan senyumnya. Mengerling sebentar kearah semua orang yang ada disana. Perlu disebutkan satu-satu orang yang ada disana? Ah, kalian pasti sudah mengetahui siapa saja yang ada disana.
Dan gadis itu masih tetap tersenyum tipis namun ramah—meskipun tidak terlalu kelihatan. Senyuman bidadari.
Krik krik krik.
Sumpah disini hening.
Seraya berjalan menuju Lobby Selatan Stasiun Akita—yang notabene telah diberi kekkai, sehingga sepertinya jarang dikunjungi orang lain, ia melirik ke jam tangan berwarna biru langitnya. Ah yeah, tinggal beberapa menit lagi Ryokubita Shinkansen akan datang. Gadis pecinta modernisasi itu hanya tersenyum tipis melirik jarum jam yang berputar-putar itu. Tangan sebelah kanannya kembali menarik koper berwarna biru tua menuju tiang kedelapan. Kedua telinganya terpasang sepasang headset—yang tersambung ke handphonenya. Tidak diragukan lagi kalau barang-barang elektronik seperti itupun sangat diperlukan gadis seusianya. Eh ya, meracau.
Sudah sampai. Ucapkan kata kuncinya, Ina-chan.
"Midori no kutsu," gumamnya pelan. Ia langsung melangkah mundur sebanyak empat langkah demi menghindari sinar cahaya yang kalau kau lihat langsung bisa buta seketika—tidak sebegitu juga sih sebenarnya, hanya saja kau akan merasa silau. Bayangkan saja kalau kau harus melihat matahari tanpa menghindar sama sekali dari jarak dekat. Matamu pasti sudah habis terbakar dan akan buta seketika. Okay, dengan segera Ina langsung menuruni tangga. Memangnya kau mengharapkan apa yang terlihat setelah cahaya tadi memudar? Pintu ajaib yang bisa kemana saja? Mimpimu.
Eh? Ternyata sudah banyak yang datang? Hei, Ina. Memangnya hanya kau sendiri yang akan pergi ke Ryokubita? "Selamat malam, semua," ujarnya sambil tersenyum tipis. Kedua tangannya terlihat mau merapatkan lagi jaket tipis yang ia pakai saat ini, dan ia masih menyunggingkan senyumnya. Mengerling sebentar kearah semua orang yang ada disana. Perlu disebutkan satu-satu orang yang ada disana? Ah, kalian pasti sudah mengetahui siapa saja yang ada disana.
Dan gadis itu masih tetap tersenyum tipis namun ramah—meskipun tidak terlalu kelihatan. Senyuman bidadari.
_________________

I see how you're trying to weasel your way. And, boy, I know how you maneuver with your confusion..
.: You Thought Wrong, Kelly Clarkson feat. Tamyra Gray :.

Akihito Saha- Gakusei (Senpai)

- Number of posts: 4
Registration date: 2009-03-20
Character Information
Born Place/Date:
Age, Height/Weight: 14 y.o, 168cm/53kg
Physhical Characteristics:
Hakamadote Street
Please welcome, Akihito Saha. Makhluk berjenis laki-laki berumur 14 tahun Desember kemarin bertempat tinggal di Desa Hakamadote. Bersekolah di Ryokubita sejak setahun kemarin dan sedang akan menjalani masa tahun keduanya sepanjang tahun ajaran ke depan. Dan tahu apa hal pertama yang harus dihadapinya? Menaiki tangga setinggi...entahlah, bermeter-meter yang pasti. Tangga-tangga tercuram sepanjang sejarah yang pernah dibuat oleh manusia. Ah, yakin memangnya, manusia yang membuatnya? Jujur saja, Aki setengah meyakini leluhurnya dulu itu bukan manusia. Bukan manusia yang benar-benar manusia, setidaknya. Setengah manusia, setengah makhluk-entah-apa. Impian terpendam Aki untuk mengetahui apa yang ada di balik dibangunnya tangga panjang macam begini. Ngomong-ngomong, kalau leluhur Aki dulu setengah manusia setengah makhluk-entah-apa, jadi Aki sekarang ini apa? Nyaris manusia dengan sisa-sisa esensi makhluk-entah-apa itu? Great, artinya Aki bukan manusia biasa. Dan itu juga berarti kalau Aki--keren. Jangan protes, Aki memang keren. Berani protes, artinya kau iri pada Aki. Nah, berani protes?
Ngomong-ngomong, coba lihat jam berapa sekarang. Aki mengikuti insting dan melirik ke arah jam tangan digital di pergelangan tangan kanannya, dan terdiam sesaat. Angka detik terus berganti, sementara mata Aki masih fokus pada jamnya, dan seakan terkena mantra pembeku dan terdiam mematung tak bergerak. Shock, melihat angka yang muncul di bagian jam dan menitnya. Penasaran, dengan angka yang muncul di jam tangan digital milik seorang Akihito Saha, eh? Biar Aki tunjukkan sendiri. 01.43.37 AM. Ah, berganti lagi, 01.43.39 AM. Ah, angkanya berganti lagi, jadi 01.43.43 AM. Jah, angka detiknya berga--
--Oh, okay. Stop this nonsense.
Intinya begitu. Sudah jam segitu, dan Aki masih terdiam menatap undakan dengan tangga segitu banyaknya di hadapannya, dan Aki bahkan belum menaiki satu anak tangga pun. Eh, tangga sebegitu curamnya, harus dinaiki Aki dalam waktu kurang dari 17 men--ah, 16 menit?! Whatda... Tak lihat itu barang bawaan Aki yang gila-gilaan beratnya, yang ada dalam satu koper itu doang? Oh, well. Baik, bukan Akihito Saha namanya kalau dia tak bisa menaiki tangga securam dan sepanjang itu dalam waktu semepet itu. Bukti? Baik, Aki buktikan, sekarang juga. Detik ini, menit ini, jam ini, sekarang ini. Aki memindahkan berat kopernya ke punggungnya, mengambil posisi mengahadap ke arah tangga menjulang tersebut. Setengah melengos sesaat, Aki memandang sinis sesaat ke keseluruhan tangga. Saatnya melakukan ekspedisi menaiki undakan menuju ke Hakamadote Station. Siap? Dalam hitungan ketiga. Satu. Dua. Ti--
--ga!!
Aki berlari menaiki tangga curam nan gila edan-edanan itu. Yeah, 150 anak tangga dinaiki nyaris tanpa napas. Er, tanpa berhenti untuk menarik napas, maksudnya. Dikira Aki bisa menaikinya tanpa napas, eh? Mau bunuh Aki ya? Jangan dong ah, Aki masih 14 tahun, belum sempat menikmati indahnya kehidupan. Lagipula, Aki berhasil menaikinya, dalam waktu sekitar sepuluh menit lebih kurang. Artinya? Aki kehabisan napas, saudara-saudara. Belum lagi untuk masuk menuju tepat di tempat kereta dari Stasiun Akita sana berhenti di Stasiun Hakamadote. Butuh waktu berapa lama lagi, eh?
Aki melirik sesaat ke arah jam dinding stasiun yang mengerikan besarnya. Tebak? Kurang dari 5 menit lagi kereta datang. Masih kurang yakin dengan apa yang dilihat Aki di jam besar parah itu, Aki melirik ke arah jam tangan digitalnya, dan kembali terpaku sesaat dengan nafas tersengal-sengal. Tinggal TIGA MENIT lagi. Jadi? Tak ada waktu berpikir dan beristirahat atau apalah, cuma satu hal yang terlintas dalam pikiran Aki. Hm? Masih menanyakan apa? Tentu saja, LARI!!
Aki bisa melihat lampu kereta yang mendekat, dan akhirnya berhenti. Bukan, bukan lampu keretanya yang berhenti. Keretanya yang berhenti. Dan Aki masih berlari. Setengah kecepatan maksimumnya, terus mengarah lurus ke arah kereta yang berhenti. Dan, baru tersadar kalau ada orang lain yang berdiri di sana. Terlambat untuk memperlambat kecepatan, apalagi berhenti. Jadi?
Aki menabraknya. Er, mari kita ralat sedikit, Aki nyaris menabraknya. Yang pasti Aki jatuh dengan posisi sangat tidak keren, tepat di sebelah makhluk yang berdiri tersebut. Well, Aki jelas tahu siapa dia, dan langsung mengenalinya dalam detik terakhir sebelum dia jatuh. Reira Hodo. Sepersekian detik menyentuh tanah, Aki langsung bangkit berdiri kembali, dengan refleks dalam lidahnya untuk langsung berbicara.
"Er, hai, Rei-chan," sapa Aki langsung. Sesaat melupakan kalau dirinya masih tersengal-sengal dan kakinya yang agak gemetar akibat dipergunakan sebegitu beratnya hanya dalam waktu beberapa menit. Senyum polos terpancang sempurna di wajah Aki, menyamarkan kenyataan kalau barusan dia jatuh dengan sangat tidak keren. Mencemari image-nya sedikit? Peduli apa sih? Aki tetap keren, walau terlempar ke kubangan lumpur sekalipun. Cuma lumpurnya saja yang tidak keren, tapi Aki tak akan terpengaruh. Tahu kenapa? Karena seorang Akihito Saha itu keren absolut, mutlak.
Ngomong-ngomong, mau tahu jam berapa sekarang? Lirik sesaat ke arah jam tangan digital Aki, dan lihat angka yang ditunjukkan. 01.59.25 AM
Dan, yeah. Aki memang keren.
Please welcome, Akihito Saha. Makhluk berjenis laki-laki berumur 14 tahun Desember kemarin bertempat tinggal di Desa Hakamadote. Bersekolah di Ryokubita sejak setahun kemarin dan sedang akan menjalani masa tahun keduanya sepanjang tahun ajaran ke depan. Dan tahu apa hal pertama yang harus dihadapinya? Menaiki tangga setinggi...entahlah, bermeter-meter yang pasti. Tangga-tangga tercuram sepanjang sejarah yang pernah dibuat oleh manusia. Ah, yakin memangnya, manusia yang membuatnya? Jujur saja, Aki setengah meyakini leluhurnya dulu itu bukan manusia. Bukan manusia yang benar-benar manusia, setidaknya. Setengah manusia, setengah makhluk-entah-apa. Impian terpendam Aki untuk mengetahui apa yang ada di balik dibangunnya tangga panjang macam begini. Ngomong-ngomong, kalau leluhur Aki dulu setengah manusia setengah makhluk-entah-apa, jadi Aki sekarang ini apa? Nyaris manusia dengan sisa-sisa esensi makhluk-entah-apa itu? Great, artinya Aki bukan manusia biasa. Dan itu juga berarti kalau Aki--keren. Jangan protes, Aki memang keren. Berani protes, artinya kau iri pada Aki. Nah, berani protes?
Ngomong-ngomong, coba lihat jam berapa sekarang. Aki mengikuti insting dan melirik ke arah jam tangan digital di pergelangan tangan kanannya, dan terdiam sesaat. Angka detik terus berganti, sementara mata Aki masih fokus pada jamnya, dan seakan terkena mantra pembeku dan terdiam mematung tak bergerak. Shock, melihat angka yang muncul di bagian jam dan menitnya. Penasaran, dengan angka yang muncul di jam tangan digital milik seorang Akihito Saha, eh? Biar Aki tunjukkan sendiri. 01.43.37 AM. Ah, berganti lagi, 01.43.39 AM. Ah, angkanya berganti lagi, jadi 01.43.43 AM. Jah, angka detiknya berga--
--Oh, okay. Stop this nonsense.
Intinya begitu. Sudah jam segitu, dan Aki masih terdiam menatap undakan dengan tangga segitu banyaknya di hadapannya, dan Aki bahkan belum menaiki satu anak tangga pun. Eh, tangga sebegitu curamnya, harus dinaiki Aki dalam waktu kurang dari 17 men--ah, 16 menit?! Whatda... Tak lihat itu barang bawaan Aki yang gila-gilaan beratnya, yang ada dalam satu koper itu doang? Oh, well. Baik, bukan Akihito Saha namanya kalau dia tak bisa menaiki tangga securam dan sepanjang itu dalam waktu semepet itu. Bukti? Baik, Aki buktikan, sekarang juga. Detik ini, menit ini, jam ini, sekarang ini. Aki memindahkan berat kopernya ke punggungnya, mengambil posisi mengahadap ke arah tangga menjulang tersebut. Setengah melengos sesaat, Aki memandang sinis sesaat ke keseluruhan tangga. Saatnya melakukan ekspedisi menaiki undakan menuju ke Hakamadote Station. Siap? Dalam hitungan ketiga. Satu. Dua. Ti--
--ga!!
Aki berlari menaiki tangga curam nan gila edan-edanan itu. Yeah, 150 anak tangga dinaiki nyaris tanpa napas. Er, tanpa berhenti untuk menarik napas, maksudnya. Dikira Aki bisa menaikinya tanpa napas, eh? Mau bunuh Aki ya? Jangan dong ah, Aki masih 14 tahun, belum sempat menikmati indahnya kehidupan. Lagipula, Aki berhasil menaikinya, dalam waktu sekitar sepuluh menit lebih kurang. Artinya? Aki kehabisan napas, saudara-saudara. Belum lagi untuk masuk menuju tepat di tempat kereta dari Stasiun Akita sana berhenti di Stasiun Hakamadote. Butuh waktu berapa lama lagi, eh?
Aki melirik sesaat ke arah jam dinding stasiun yang mengerikan besarnya. Tebak? Kurang dari 5 menit lagi kereta datang. Masih kurang yakin dengan apa yang dilihat Aki di jam besar parah itu, Aki melirik ke arah jam tangan digitalnya, dan kembali terpaku sesaat dengan nafas tersengal-sengal. Tinggal TIGA MENIT lagi. Jadi? Tak ada waktu berpikir dan beristirahat atau apalah, cuma satu hal yang terlintas dalam pikiran Aki. Hm? Masih menanyakan apa? Tentu saja, LARI!!
Aki bisa melihat lampu kereta yang mendekat, dan akhirnya berhenti. Bukan, bukan lampu keretanya yang berhenti. Keretanya yang berhenti. Dan Aki masih berlari. Setengah kecepatan maksimumnya, terus mengarah lurus ke arah kereta yang berhenti. Dan, baru tersadar kalau ada orang lain yang berdiri di sana. Terlambat untuk memperlambat kecepatan, apalagi berhenti. Jadi?
Aki menabraknya. Er, mari kita ralat sedikit, Aki nyaris menabraknya. Yang pasti Aki jatuh dengan posisi sangat tidak keren, tepat di sebelah makhluk yang berdiri tersebut. Well, Aki jelas tahu siapa dia, dan langsung mengenalinya dalam detik terakhir sebelum dia jatuh. Reira Hodo. Sepersekian detik menyentuh tanah, Aki langsung bangkit berdiri kembali, dengan refleks dalam lidahnya untuk langsung berbicara.
"Er, hai, Rei-chan," sapa Aki langsung. Sesaat melupakan kalau dirinya masih tersengal-sengal dan kakinya yang agak gemetar akibat dipergunakan sebegitu beratnya hanya dalam waktu beberapa menit. Senyum polos terpancang sempurna di wajah Aki, menyamarkan kenyataan kalau barusan dia jatuh dengan sangat tidak keren. Mencemari image-nya sedikit? Peduli apa sih? Aki tetap keren, walau terlempar ke kubangan lumpur sekalipun. Cuma lumpurnya saja yang tidak keren, tapi Aki tak akan terpengaruh. Tahu kenapa? Karena seorang Akihito Saha itu keren absolut, mutlak.
Ngomong-ngomong, mau tahu jam berapa sekarang? Lirik sesaat ke arah jam tangan digital Aki, dan lihat angka yang ditunjukkan. 01.59.25 AM
Dan, yeah. Aki memang keren.

